0

Setiap Sholat Jumat, Rasulullah berkhutbah menggunakan pelepah kurma sebagai tempat sandaran. Suatu ketika, umat muslim semakin bertambah dan jamaah semakin banyak, Rasulullah semakin tidak kelihatan oleh Jamaah, terutama jamaah yang posisinya di bagian belakang. Oleh karena itu para sahabat berinisiatif membuatkan sebuah mimbar bagi Rasulullah agar beliau dapat terlihat oleh semua jamaah yang hadir (Padahal kalo di sini, aq ga begitu peduli siapa yang ceramah, gak kelihatan gapapa asal suaranya terdengar dan isinya menarik sudah lebih dari cukup, tapi ini jaman Rasulullah maaann..).
Pada hari Jumat berikutnya, Rasulullah naik ke mimbar tersebut untuk berkhotbah. Di tengah khotbah tiba-tiba terdengar suara tangisan yang amat nyaring. Suara tersebut terdengar sangat memilukan seperti suara anak kecil yang kehilangan ibunya. Suara tersebut sangat keras hingga khotbah Rasulullah tidak terdengar oleh para sahabat. Sahabat-sahabat pun mulai menoleh, melongok, celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Ternyata suara tersebut adalah suara dari pelepah kurma yang biasa Rasulullah gunakan untuk khutbah Jumat. Rasulullah pun turun dari mimbar menuju pelepah kurma tersebut. Dibelai-belainya pelepah kurma tersebut seperti Ibu menenangkan anaknya yang menangis. Rupanya pelepah kurma tersebut sedih, ia tidak kuat ditinggal Rasulullah khutbah Jumat di tempat lain. Padahal jarak antara pelepah kurma dengan mimbar Rasulullah yang baru hanya 8 langkah. Namun karena kecintaan pelepah kurma ia tidak ingin ditinggalkan Rasulullah. Rasulullah pun menawarkan pilihan, apakah ia mau Rasulullah tetap menggunakan pelepah kurma tersebut untuk berkhotbah dan Allah akan mengabadikan pelepah kurma hingga hari kiamat, ataukah ia ingin bersama Rasulullah kelak di surga nanti. Pelepah kurma itupun memilih untuk bersama Rasulullah di surga.
Perhatikan bahwa Rasulullah adalah Rahmatan lil ‘Alamin. Bukan hanya manusia, bahkan pelepah kurma pun yang tidak berakal merindukan dan mencintai Rasulullah. Masakah kita yang berakal dan bernyawa sama sekali tidak merindukannya?

Post a Comment

 
Top